Biografi HR. Rasuna Said: Masa Muda, Perjuangan, Akhir Hidup

HR. Rasuna Said

HR. Rasuna Said atau Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah seorang wanita pejuang kemerdekaan Indonesia asal Sumatera Barat. Dia ikut memperjuangkan kesetaraan hak di antara wanita dan pria.

HR. Rasuna Said
Foto: klasika.kompas.id

Rasuna Said aktif dalam sejumlah organisasi politik, seperti Sarekat Rakyat, sebagai sekretaris. Dia juga ikut membangun Persatuan Muslimin Indonesia (PERMI) di Bukittinggi pada 1930.

HR. Rasuna Said Sang Pahlawan 

Hajjah Rangkayo Rasuna Said menjadi salah satu pahlawan yang sangat menginspiraasi di Indonesia. Dia adalah seorang orator wanita yang mencoba mengusung martabat wanita dan perjuangkan hak-hak wanita Indonesia saat itu.

Rasuna Said Membuat Takut Belanda

Dia ditakuti oleh penjajah Belanda. Karena peranan perjuangannya, namanya kini dipakai sebagai nama jalan di Ibukota Jakarta. Untuk mengenalinya selanjutnya, kita ulas mengenai profile dan Biografi dari Rasuna Said dan perjalanan hidupnya.

Biografi HR. Rasuna Said

Rasuna Said lahir pada 14 september 1910 Di Agam, Sumatera barat. Wanita Minang ini mempunyai nama lengkap Hajjah Rangkayo Rasuna Said atau dikenali bernama HR. Rasuna Said. Ayahnya sendiri bernama Muhammad Said.

Rasuna Seorang Putri Kiai

Dalam biografi Rasuna Said yang dicatat oleh Esti Nurjanah (2017) dijumpai jika keluarga Rasuna Said berasal dari kelompok terpandang di Sumatera Barat yaitu kelompok ulama yang paling disegani dan dari kelompok pembisnis.

Masa Muda HR. Rasuna Said

Tokoh wanita yang berasal dari Sumatera Barat ini dijumpai semenjak kecil aktif ikuti beragam pengajian. Lulus SD, langsung melanjutkan sekolah ke ponpes Ar-Rasyidiyah. Waktu itu dia menjadi salah satu santri wanita di pesantren itu.

Baca Juga:  Biografi Srikandi NU Nyai Hj. Dra. Umroh Machfudzoh Pendiri IPPNU

Dari situ dia berjumpa dengan Rahmah El Yunusiyyah, tokoh wanita pergerakan Thawalib (organisasi massa Islam). Pergerakan Thawalib ialah pergerakan yang dibuat golongan reformis Islam di Sumatera Barat.

Menjadi Guru Diniyah

Di umur remaja, Rasuna Said selanjutnya masuk sekolah agama di Diniyah Putri Padang Panjang. Sesudah menuntaskan pengajaran formalnya, ia jadi guru di Diniyah Putri Panjang.

Pada tahun 1930, dia berhenti mengajar karena mempunyai ide jika perkembangan kaum hawa bukan hanya didapatkan dari membangun sekolah, tetapi dibarengi perjuangan politik.

Menikah Muda

Dalam biografi Rasuna Said yang diambil dari Jajang Jahroni dalam bukunya yang berjudul Haji Rangkayo Rasuna Said: Pejuang Politik dan Penulis Gerakan (2002), Rasuna Said dijumpai menikah pada umur 19 tahun. dia menikah dengan pria namanya Duski Samad sebagai tutornya saat itu.

Meskipun saat itu pernikahan di antara Rasuna Said dan Duski Samad banyak dilawan karena latar belakang keluarga Duski Samad yang dari keluarga biasa bertentangan dengan latar belakang keluarga Rasuna Said.

Berpisah Dengan Suami

Pernikahannya tidak tahan lama karena Rasuna Said memutuskan untuk berpisah dikarenakan oleh aktivitas masing-masing serta minimnya komunikasi di antara ke-2 nya.

Perjuangan HR. Rasuna Said

Diperjalanan hidupnya, Rasuna Said dijumpai benar-benar melawan poligami. Dia bahkan juga cenderung pilih berpisah dibandingkan poligami. Seperti sajak yang dia catat yang dimuat dalam buku The Indonesian Women Struggle and Achievments kreasi Cora Vreede-de Stuers (1970)

Sajak-Sajak

..Itu ketetapan tradisi

..Agama juga memutuskan begitu

..Diamkan suamimu pergi dengan tenang

..Diamkan dia tersenyum dan menyanyi

..Dan kau tidak boleh sakit hati

Menjadi Sekretaris Sarekat Rakyat

Dia jadi sekretaris di Sarekat Rakyat (SR) dan turut di pergerakan Islam Kekinian Soematra Thawalib. Ia membangun Persatoean Moeslimin Indonesia (PERMI) di Bukit Tinggi sekitaran tahun 1930.

Baca Juga:  Bu Nyai Hannah Zamzami Lirboyo

Dalam aktivitas sosial, ia selalu berorasi mengenai hak -hak wanita. Ini sebagai salah satunya wujud perjuangan Rasuna Said. Bahkan juga dia berani mengomentari pemerintahan penjajahan belanda. Pidatonya selalu mendapatkan support dari rakyat pribumi, tetapi dilawan oleh pemerintah belanda.

Dikucilkan ke Semarang

Sebab keberadaannya yang terancam, pemerintahan penjajahan belanda mengucilkannya ke Semarang. Ia dikucilkan sekitaran tahun 1932 dan waktu itu dia berumur 22 tahun.

Meskipun di tahan, ia tak pernah stop perjuangkan hak-hak wanita yang terlewatkan. Sekitaran tahun 1935, Ia jadi seorang wartawan. Ia kerap menulis beragam kritik untuk penguasa waktu itu.

Rasuna Said Menjadi Jurnalis

Ia memegang sebagai pimpinan redaksi majalah raya di semarang. Di Semarang ia tergabung dengan PERMI. Tetapi karena perlawanan figur PERMI di semarang buruk, ia memilih untuk berpindah ke Medan.

Saat umur 27 tahun, ia membangun Perguruan Poeteri di Medan. Ia membuat majalah mingguan yang namanya Menara Poeteri. Rasuna Said stabil perjuangkan hak-hak wanita indonesia yang dilalaikan. Di majalah itu mempunyai jargon yang serupa dengan jargon Ir Soekarno ” Ini dadaku, Mana dadamu”.

Koran Mingguan

Koran mingguan ini bukan hanya bicara mengenai wanita. Tetapi bicara mengenai ajakan pribumi untuk lakukan gerakan. Ataupun lebih dikenali bernama antikolonialisme. Minimnya modal, membuat ia harus ikhlas tutup majalah ini.

Dia kembali lagi ke kampungnya di sumatera barat. Disitu ia masih tetap berorasi untuk wanita dan kemerdekaan indonesia. Sesudah indonesia merdeka, Dia masih tetap aktif dalam organisasi.

Seperti pada komiter nasional indonesia dan Tubuh pencahayaan pemuda indonesia. ia sempat juga jadi anggota dewan perwakilan sumatera, dewan perwakilan rakyat republik indonesia serikat, dewan pertimbangan agung.

Baca Juga:  Biografi Nyai Hj. Shinta Nuriyah, Ulama Wanita yang Masuk ke Dalam Jajaran Mustasyar PBNU

Akhir Hidup Rasuna Said

Rasuna Said meninggal dunia di jakarta pada 2 November 1965 di umur 55 tahun. dia disemayamkan di Taman Pusara Pahlawan Kalibata di jakarta.

Gelar Pahlawan Nasional HR. Rasuna Said

Karena semua perjuangannya bela hak golongan wanita, ia dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional di tahun 1974 oleh pemerintahan dan namanya dipakai sebagai jalan prosedur di wilayah kuningan Jakarta.

Rasuna Said dikenali sebagai Singa Tribune dan Oratur ulung. Rasuna Said mempunyai kemiripan dengan RA Kartini yaitu sama sebagai salah satunya pahlawan nasional dan sama perjuangkan hak-hak wanita Indonesia. Mereka berdua masing-masing membangun sekolah wanita untuk perkembangan martabat wanita Indonesia saat itu.

Tetapi ada ketidaksamaan penglihatan di antara ke-2 nya, yaitu Rasuna Said benar-benar melawan Poligami sementara Kartini terima poligami.

Rasuda Said sebagai salah satunya figur pahlawan wanita Indonesia yang berpikiran maju. Dia memiliki pendapat jika wanita Indonesia harus berpikir berkenaan kebebasan dan harus turut berperan serta dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Itulah segelintir kisah tentang HR. Rasunah Said atau Hajjah Rangkayo Rasuna Said: Biografi, Masa Muda, Perjuangan, Akhir Hidup. Semoga Bermanfaat.

Sumber:

1. https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/02/biografi-rasuna-said.html

2. https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/05/131936879/rasuna-said-masa-muda-perjuangan-dan-akhir-hidup?page=all

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *