Cerpen  

Laki-Laki yang Merdeka

Oleh: Frida Pramadipta

Laki-Laki yang Merdeka
Laki-Laki yang Merdeka

Armadi! masih terpatri kuat di ingatan, sejak 10 tahun lalu ia memutuskan untuk tidak mendambakan tentang segala keindahan dan idealisme yang dibentuk masyarakat. Armadi juga tidak pernah bersedia menjanjikan status hubungan yang diimpikan setiap wanita. Dan sejak 10 tahun pula aku memergoki terdapat aspek konservatisme yang mengakar kuat dalam dirinya. Selama ini, ia di antara para mahasiswa yang feodal dikenal sebagai pembangkang. Tapi toh, ia justru menemukan dirinya tetap taat pada regulasi kampus di aspek yang berbeda. Armadi nyatanya  masih ingin lulus dengan khusnul khotimah, sebabnya ia tidak pernah absen  satu kalipun terkecuali sakit atau memang sedang ketiduran. Meski terkadang bertingkah gila, Armadi tetap hidup penuh kedisiplinan.

Lelaki bertubuh tegap dan berambut mulet mengerutkan keningnya. Aku selalu memerhatikan  laki-laki yang penuh pertanyaan itu. Reaksinya adalah  buah ia berkuliah di universitas  yang melatihnya untuk berpikir kritis. Sangat berbeda dengan anak muda seusia kami. Dia memperlihatkan ketenangan, kelambanan, dan kehati-hatian. Harga dirinya yang tinggi menjadikannya orang yang jujur, tapi terkadang dia pendiam ketika merasa khawatir keterusterangannya salah dipahami sebagai ketidaktahuan. Mengalah dalam hal kecil, tapi seteguh karang ketika merasa patut untuk menunjukkan watak dan keteguhan prinsipnya. Peka terhadap kebahagiaan jasmani dan ruhani, pemalu dan tidak fasih berbicara ketika merasa tidak dipahami, tapi fasih ketika merasa bahwa kata-katanya jatuh di tanah subur. Ia  gemar mengajak siapapun untuk  berwacana kritis dalam beragumen. Baginya argumen tidak hanya ditujukan bagi mereka yang berlatar belakang pendidikan hukum, namun semua kalangan yang bersimpati terhadap kezaliman negeri ini. Tentu aku sempat kesulitan membaca warnanya sebab pisau perspektifku tidak tajam. Walapun saat itu aku  belum pernah berbincang, yang jelas naluriku mengatakan Armadi bukanlah lelaki biasa.

Kekukuhan dan kekerasan karakter Armadi yang kukenal sejak dibangku kuliah sama sekali tidak berubah hingga aku menyandang status sebagai istrinya.

“Aku heran dengan butanya aku selama ini,” keluhnya sambil menutup laptop setelah berjam-jam berkutat sendiri. Ia kemudian tidur menelentang, menatap langit-langit. Perasaannya sukar dibahasakan hanya mampu menghela nafas panjang. “Ada orang yang mampu melihat dengan mata terpejam dan ada pula orang yang sama sekali buta meski sudah membelalak. Rupanya suamimu ini golongan yang terakhir.”

“Apalagi kali ini? Bicara ndak pernah gamblang.”

Baca Juga:  Untuk Bapak

“Dia memang hebat, tapi tidak cermat. Pasti akan lelah juga melolong-lolong tanpa arah.”

“Dia… siapa? ” ujarku yang tengah sibuk menggambar ekor alis mata.

Armadi memejamkan mata. Enggan menjawab.

Tak ada suara apa-apa. Hening.

“Mas… Mas, benar aku ini mencintai kamu. Tapi pikiranmu  hanya dipenuhi orang-orang  brengsek.”

Armadi tertawa kecil. Wajahnya yang muram menjadi lebih cerah. Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan  penuh gairah menghampiriku. “Kamu cantik, Han.” Armadi berbicara sembari sibuk menciumi pipiku, tingkahnya seperti orang yang baru menenggak anggur.

 “Hei! Bapak Profesor, alis saya ini lho! tiga puluh menit lagi saya harus sudah siap.”

Armadi terkekeh senang. Namun tak bertahan lama. Wajahnya kembali berubah  mendung. Kegetiran tersirat dikedua matanya.

Mencoba meneliti apa yang ada di balik dada suaminya itu, “Ada apa? apa yang mengganggumu kali ini?” Armadi  tak terlihat kukuh. Bahkan terlihat keraguan dalam dirinya sendiri. Kuraih tangannya, kemudian kami berdua duduk bersandingan di sofa besar hadiah mertua saat kami memutuskan untuk pindah ke apartemen. Kali ini aku yakin ada seseorang yang menyiksa Armadi. Mungkin ia dipaksa mengungkap satu rahasia besar. Atau mungkin sedang dihadapkan dalam situasi pelik yang mempertaruhkan jabatannya.

“Masih enggan bercerita? Ayo,  tidak apa-apa. Engkau tetap terlihat keren bahkan jika ingin menangis sekarang.”

“Hati saya akan pecah jika harus menceritakan semua…,” menatapku dengan wajah polos dengan sorot mata yang jujur tentang luka yang  menggores hatinya.

Aku mengambil nafas. Mencoba memahami  Armadi yang tak pernah tuntas. Ia membuat batasan atas “ruang pribadi” yang telah kami sepakati untuk dimilikinya sendiri, kecuali, ya, jika Armadi mengijinkan aku  untuk memasukinya. Tapi Armadi selalu paham, ketika aku sudah tidak lagi bernafsu memaksanya bercerita, bukan berarti aku menyerah. Aku masih setia untuk berdiskusi meski terkadang ragu harus membalas percakapan yang tak pernah jelas arahnya itu. Dia tahu rasa hormatku padanya tidak akan memudar. Bahkan, hingga di penghujung zaman pun, aku akan tetap setia menjadi telinganya.

“Marah ya, Han…”

“Tidak, Mas…”

Armadi manggut-manggut setuju. Ia menatapku termangu. Lalu memeluk bahuku. Kedua matanya mengungkap seluruh luka-luka yang masih basah. Meski tak menjelaskan dengan kata-kata, aku mengerti bahwa ia hanya tak ingin goyah oleh siapapun dan dalam keadaan apapun. Armadi yang ku kenal… hanya tak ingin membayar atas prinsip hidupnya sendiri.

Baca Juga:  Pemuda yang Berselimut Luka

****

“Terdakwa, silakan pernyataan penutup anda,” ujar sang Hakim mempersilakan.

“Yang Mulia Hakim,”

Saat kudengar suaranya yang menenangkan, aku menjadi emosional. Aku tak ingin dia menderita sendirian. Aku ingin membunuh semua orang yang mengganggu pria ini. Aku mengenalnya sepuluh tahun. Berbagai hal telah terjadi. Armadi selalu berusaha keras dalam hidup untuk menjadi seorang yang “merdeka”. Seperti yang ku ketahui, jalan itu tentu sulit untuk dirinya serta untuk orang yang melihatnya. Tapi Armadi tidak akan berubah. Tidak ada orang yang bisa mengubahnya. Karena dia sangat kuat.

“Investigasi ini dimulai dengan saya dicap sebagai pembunuh. Sandiwara di atas sandiwara telah tercipta oleh  Jaksa. Facta sunt potentiora verbis, fakta harus lebih kuat dari kata-kata.Yang Mulia, bukti yang terus  digaungkan adalah  sebagian dari barang bukti yang merugikan saya dan Jaksa  mengabaikan bukti yang lain. Sebodoh itukah pembunuh untuk meninggalkan jejak kakinya?”

Ia berdiri menghampiri Jaksa Penuntut Umum yang melihatnya sebagai macan ompong. Armadi enggan menyewa pengacara. Bukan karena ia seorang Professor Hukum, tapi ia sanggup mengatasinya sendiri. Ia yakin, dirinya sebersih kertas putih.

Setelah sunyi yang cukup panjang, Armadi kembali bersuara dengan tenang dan agung.

“…saya tidak sebodoh itu. Jangan hanya mendengar dan melihat apa yang ingin anda percayai. Anda seharusnya tidak  membiarkan pembunuh sebenarnya berkeliaran atas asumsi keliru  bahwa saya pembunuhnya.”

Jaksa bergeming. Ia tidak boleh lupa bahwa lawannya adalah Armadi.

“Yang Mulia, mereka menuduh saya. Lillahi Ta’ala,  saya tidak melakukan apapun.  Saya sudah mengadu. Tapi kemana? Kepada siapa? Saya dicaci. Saya dibinatangkan pada saat penyidikan.[1] Saya hanya bisa mengadu kepada Tuhan. Sampai saya memohon pada Tuhan, cabutlah nyawa saya jika saya melakukan seperti yang dituduhkan kepada saya!” Armadi menggelegar, ucapannya cukup menusuk siapapun yang mendengar.

“Lantas apa pembelaan anda terhadap seluruh bukti yang mengarah kepada anda?”

“Bukti kunci ini akan membuktikan alibi saya bahwa pada saat terjadi insiden saya sedang berada di ruangan dosen untuk mempersiapkan soal ujian. Pada hari tersebut, ada seorang mahasiswa mencoba meretas laptop milik saya untuk mencuri soal ujian dan bersembunyi di lemari. Saya memintanya untuk bersaksi tapi gagal meskipun ia menyadari bahwa dialah satu-satunya saksi kunci. Tapi hari ini, dia kumpulkan keberanian untuk sampaikan kesaksian melalui video dalam diska ini. Tidakkah anda merasa ragu sekarang? Terdakwa tidak bisa dihukum jika masih ada keraguan.” Ujarnya mantap. Sudah ia tanam semacam dendam dalam hatinya yang tumbuh cepat menjadi kekuatan.

Baca Juga:  DEKAHAN BUMI

Seketika ruang sidang bergemuruh. Sorak-sorakan dari pengunjung membuat ruangan yang sudah sesak semakin gaduh.

 “Mohon tertib semuanya.” Suara palu hakim dibunyikan memperingati pengunjung untuk tetap tenang selama jalannya persidangan.

“Yang Mulia, saya mohon bukti itu ditolak sebab belum diverifikasi oleh Pengadilan” ujar jaksa.

“Tidak perlu. Terlepas dari bukti ini, hasil putusan pengadilan… itu yang yang ingin saya ketahui. Sepanjang proses peradilan, saya berjuang untuk membantah keabsahan bukti yang diajukan jaksa yang menjalankan investigasi dengan asumsi bahwa saya adalah pembunuhnya. Sebagai profesor yang mengajar hukum pidana, saya tidak pernah mengatakan bahwa hukum itu adil. Yang membuat hukum itu adil… adalah putusan hakim yang didasari oleh asas praduga tak bersalah[2] dan undang-undang barang bukti. Itulah yang saya ajarkan kepada murid saya! Saya harap pengadilan ini bisa menunjukkan kepada para calon petugas hukum ini mengenai arti putusan yang adil. Mohon Yang Mulia, tunjukkan kepada mereka contoh yang nyata. Sekian.”

Armadi kembali duduk di kursi panas seorang diri. Tidak ada gurat kegelisahan dalam raut wajahnya. Armadi, sebenarnya sudah tahu persis akan di kemanakan alur sidang ini. Tanpa sengaja mata kami bertemu, aku sedikit kesal sebab sejak hari penahanan ia menolak untuk dikunjungi siapapun termasuk diriku. Saat itu Armadi tersenyum meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Meski terkesan membohongi diri, setidaknya ia terlihat lebih tegar dalam senyumnya.

Kepada pengganggu lelaki ini, salah jika engkau mengujinya. Sebab pada saat itulah, ia yang akan mengujimu.


[1] Dalam Pasal 1 Angka 2 KUHAP, Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terkadi dan guna menemukan tersangkanya.

[2] Praduga tak bersalah adalah  asas yang menyatakan seseorang terdakwa atau tersangka tidak boleh dinyatakan bersalah hingga ada putusan pengadilan yang bersifat tetap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *