Cerpen  

DEKAHAN BUMI

Dekahan Bumi
Cerpen

Oleh:  Luluk Handayani

(Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta)

 


 

Udara pedesaan di pagi hari terasa sangat sejuk. Gunung lawu terlihat sangat gagah menjulang
tinggi. Mentari mulai menampakkan setengah badannya. Sementara aku masih duduk melamun menghadap arah keluar jendela. Aku menyesal, hari ini telat solat subuh karena semalaman begadang menonton film horor bersama Sofia adekku.

 

***

 

“Najwa…..Najwa…..”

“Iya, Ibu. Ada apa?” Suara ibu dari sudut dapur memecahkan lamunanku.

“Kamu sudah solat subuh belum?”

“Sudah Bu.”

“Sekarang tolong ibu ya, kamu dan Sofia pergi ke pasar untuk membeli bahan belanjaan ini ya Nduk.”

(sambil menyodorkan daftar belanjaan)

“Kok banyak banget Bu belanjaan yang mau dibeli”

“Iya nduk, kan nanti di desa kita ada acara dekahan, jadi nanti kita akan masak banyak”

“Dekahan itu acara apa Bu? Aku belum pernah mendengar sebelumnya”

“Loh, kamu belum tau to, Ibu kira kamu sudah tau.”

“Dekahan itu sebuah ritual yang biasanya di lakukan oleh masyarakat jawa, Nduk. dekahan berarti menyedekahi bumi atau niat bersedekah untuk kesejahteraan bumi. Bersedekah itu sebagai bentuk dari ucapan syukur atas segala nikmat yang telah di berikan Allah.”

“Oalah seperti itu ya Bu. Dekahannya diadakan dimana Bu?”

“Biasanya diadakan di kelurahan, Nanti acaranya setelah dzuhur. Yaudah kamu buruan kepasar. Pagi-pagi kan sayurannya masih seger-seger.”

“Siap Bu”

 

***

 

“Mau beli apa Mbak?”

“Mau beli ini Bu”

(memberikan daftar belanja kepada Ibu tukang sayur)

“Banyak sekali mbak yang mau dibeli, emangnya mau ada acara ya?”

“Iya Bu, kata ibuku tadi sih mau dekahan gitu.”

“Ooo, dekahan.”

“Ibu tau dekahan?”

“Dekahan itu ritual sedekah bumi yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa dan sebagai simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan. Menurut cerita dari para nenek moyang orang jawa terdahulu, Tanah itu merupakan pahlawan yang sangat besar bagi kehidupan manusia di muka bumi. Maka dari itu tanah harus diberi penghargaan yang layak dan besar.”

Baca Juga:  Biografi Nyai Hj. Nafisah Ali Maksum, Pecinta Al-Qur’an yang Masuk ke Dalam Jajaran A'wan PBNU

(sambil menyiapkan belanjaan yang ku beli)

Ibu penjual sayur tersebut melanjutkan penjelasannya,

“Ritual sedekah bumi dominan bagi masyarakat jawa khususnya para petani untuk menunjukan rasa cinta kasih sayang dan sebagai penghargaan manusia atas bumi yang telah memberi kehidupan bagi manusia”. Selain itu, ritual dekahan juga merupakan salah satu bentuk untuk menuangkan serta mencurahkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat dan berkah yang telah diberikan-Nya. Sehingga seluruh masyarakat bisa menikmatinya. Dekahan biasanya dilakukan setelah masyarakat menuai panen raya Mbak.”

“Jadi seperti itu ya bu sejarahnya” ucap Sofia

“Iya Mbak, ini ayamnya tinggal 2 kilo. Coba kios sebelah sepertinya masih banyak”

“Baik Ibu, jadi totalnya semua berapa Bu?”

“Semuanya seratus delapan puluh ribu Mbak.”

“Ini Bu uangnya, terima kasih ya bu ilmunya.”

“Iya, sama-sama.”

 

***

 

Aku dan Sofia langsung menuju kios sebelah.

“Permisi, Pak. Mau beli ayamnya 5 kilo.”

“Mau bagaian yang mana?”

“Bagian dada aja pak.”

“Kok belinya banyak mau dibuat acara apa Mbak?”

“Mau acara dekahan Pak.”

“Loh dekahan itu kan budayanya orang hindu, itu musyrik, masak iya bumi diberikan sesajen.”

“Menurut ibu kios sebelah tadi itu cuma acara syukuran gitu, tapi aku juga belum begitu tau sih Pak.”

“Yaudah ini ayamnya mbak.”

“Jadi semuanya berapa pak?”

“Seratus lima puluh mbak.”

“Ini ya Pak, uangnya pas. Terima kasih.”

 

***

 

Saat perjalanan pulang dari pasar aku berbincang-bincang dengan Sofia. Sebenarnya yang benar yang mana? Otak ku terus memikirkan apakah acara dekahan itu musyrik seperti yang dikatakan bapak penjual ayam tadi apa hanya acara syukuran biasa?”

Sesampainya dirumah aku menceritakan hal tersebut kepada Ibu. Menurut Ibu dekahan itu
merupakan sebuah tradisi akulturasi agama hindu dan islam dan tidak sampai musyrik, jadi bapak penjual ayam tadi beda aliran dengan kita, kata Ibu.

Baca Juga:  Cara Mandi Junub untuk Wanita yang Benar Sesuai dengan Tuntunan Hadist Rasulullah

Ibu menjelaskan lagi, Dahulu pada masa Hindu ritual tersebut dinamakan sesaji bumi. Pada masa Islam, terutama masa Wali songo (500 tahun yang lalu) ritual budaya sesaji bumi tersebut tidak dihilangkan, malahan dipakai sebagai sarana untuk mensyiarkan ajaran Allah yaitu ajaran tentang Iman dan Takwa atau didalam bahasa jawa diistilahkan eling lan waspodo yang artinya tidak mempersekutukan Allah dan selalu tunduk dan patuh mengerjakan perintah dan menjauhi larangan AIIah. Untuk mensyiarkan dan melestarikan ajaran Iman dan Takwa, maka para Wali menumpang ritual budaya sesaji bumi yang dulunya untuk alam diubah namanya menjadi upacara dekahan yang diberikan kepada manusia khususnya anak yatim dan fakir miskin tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan.

Menurut kepercayaan orang Jawa upacara dekahan harus dilakukan dengan tujuan untuk

“menyelameti” atau “menyedekahi” sawah yang dimiliki, agar hasil pertanian melimpah, maka bumi yang mereka tanami tersebut harus diselameti agar tidak ada gangguan. “Karena, segala rezeki yang kita dapat itu tidak hanya berasal dari kita sendiri, melainkan lewat campur tangan Tuhan,” warga diajarkan untuk terus mendekat pada Tuhan. Menurutnya, rezeki itu tidak semata uang, tapi juga kebahagiaan, kenyamanan dan keamanan berkehidupan dalam masyarakat.

 

***

 

Setelah semua masakan (tumpeng, ayam panggang, jadah, apem, dll) matang, masyarakat
membawa tumpeng tersebut ke balai desa untuk di doakan oleh sesepuh adat biasanya didoakan oleh Pak Kiai. Doa dipimpin oleh Bapak Kiai Sulaiman. Setelah di doakan, kemudian kembali diserahkan kepada masyarakat setempat. Nasi tumpeng kemudian di makan secara ramai ramai oleh masyarakat yang merayakan acara sedekah bumi itu. Aku, Sofia, dan Ibu menikmati makanan dengan lahap. Ada juga sebagian masyarakat yang membawa nasi tumpeng tersebut di bawa pulang untuk dimakan bersama keluarganya di rumah masing-masing. Pembuatan nasi tumpeng ini merupakan salah satu syarat yang harus dilaksanakan pada saat upacara tradis dekahan.

Baca Juga:  Pemuda yang Berselimut Luka

Makanan pokok yang harus ada dalam tradisi ritual dekahan adalah nasi tumpeng dan ayam panggang. Sedangkan yang lainnya seperti minuman, buah-buahan dan lauk-pauk hanya bersifat tambahan saja. Pada akhir acara para petani biasanya menyisakan sebagian makanan itu dan diletakkan di sudut-sudut petak sawahnya masing-masing sebagai bentuk rasa syukur.
Dalam puncaknya acara ritual dekahan di akhiri dengan melantunkan doa bersama-sama oleh
masyarakat dengan dipimpin oleh sesepuh adat. Ada yang menarik dalam lantunan doa dalam
ritual tersebut. Yang menarik dalam lantunan doa tersebut adalah kolaborasi antara lantunan
kalimat kalimat Jawa dan dipadukan dengan doa yang bernuansa Islami. Ritual sedekah bumi
yang sudah menjadi rutinitas bagi masyarakat jawa ini merupakan salah satu jalan dan sebagai
simbol penghormatan manusia terhadap tanah yang menjadi sumber kehidupan.

“Ternyata acara dekahan mengandung makna yang sangat dalam.” Batinku.

 


Tentang Penulis

Penulis adalah Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.