Mengulas Belenggu Seksualitas Perempuan dalam Budaya Patriaki

MENGULAS BELENGGU SEKSUALITAS PEREMPUAN DALAM BUDAYA PATRIARKI
Opini

Oleh: Frida Pramadipta

(Mahasiswi Fakultas Syariah UIN Maliki Malang)


Mengkaji tentang seksualitas perempuan khususnya di Indonesia tidak terlepas dari budaya patriarki yang selama ini mendiskriminasi tubuh perempuan agar tunduk dalam norma yang ada. Budaya “tabu, ora ilok” dalam masyarakat tradisional Jawa sebetulnya merupakan konstruksi dari budaya patriarki yang menganggap tubuh perempuan atau pembicaraan apapun tentang seksualitas perempuan identik dengan tabu dan divonis amoral.

Himpitan patriarki yang begitu mengakar menjadikan kaum perempuan sebagai sumber masalah ketika terdapat peristiwa yang melibatkan tubuh perempuan. Artinya, perempuan dengan segala atribut biologisnya menjadi sumber masalah dalam relasi dengan laki-laki. Sehingga masyarakat patriarkis akan menyalahkan kaum perempuan jika mereka mengalami masalah dengan yang menimpa tubuhnya. Realitas yang terjadi pada hari ini adalah perempuan tidak pernah memiliki hak secara utuh atas tubuhnya sendiri.

Budaya patriarki menempatkan posisi sosial kaum laki-laki lebih tinggi dari kaum perempuan, akibatnya masyarakat menormalisasikan adanya perilaku laki-laki yang merendahkan perempuan dalam konteks biologis. Misalnya, stereotype perempuan dianggap sebagai makhluk penggoda, makhluk seksi, perawan ting-ting, perawan kasep, janda kembang. Kemudian adanya konstruksi sosial masyarakat bahwa perempuan itu harusnya lemah, tunduk, emosional, dan lembut. Sebaliknya laki-laki digambarkan kuat, rasional dan agresif. Padahal ciri tersebut bisa relatif terjadi pada keduanya.

Kabar buruknya, jika bagi perempuan seksualitas adalah eksistensi dan harga diri dalam narasi keperawanan dan perkosaan; maka bagi laki-laki seksualitas adalah medan permainan dan kekuasaan. Mengapa laki-laki selalu mempertanyakan kesucian tubuh perempuan tetapi tidak pada kesetiaannya sendiri? Inilah sebenarnya asimetris itu, perempuan tidak memiliki hak atas onotomi tubuhnya sendiri dan budaya patriarki tidak pernah berpihak kepadanya.

Baca Juga:  Ibu Nyai Hj. Azzah As'ad

Kultur patriarki membentuk perbedaan perilaku, status, otoritas laki-laki dan perempuan kemudian menjadi hirarki gender. Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai awal mula munculnya budaya patriarki. ‘Patriarki’ merupakan konsep yang kerap disebut dalam ketahanan teori feminisme. Ia juga jantung dari nomenklatur filsafat feminisme.

Walby dalam buku Theorizing Patriarchy (1990) menarasikan kondisi kesetaraan gender dalam empat dekade masih aktual sampai sekarang. Menurutnya, konsep patriarki masih sangat diperlukan untuk memahami kesetaraan gender. Patriarki muncul melalui pekerjaan yang menempatkan perempuan mengalami segregasi secara sistematis dalam sistem pengupahan kapitalis. Pembagian kerja juga dilandaskan dalam gender rumah tangga yang memaksa perempuan untuk mengambil tanggung jawab utama untuk pekerjaan rumah tangga khususnya dalam mengasuh anak, meski ia seorang wanita karir. Perempuan barangkali dapat terjebak dalam ikatan pernikahan yang tidak memuaskan karena mereka tidak menemukan pekerjaan dengan upah yang baik untuk mendukung diri dan anak-anak mereka. Dalam budaya patriarki juga diwarnai oleh kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan.

Oleh karena itu, berbagai persoalan yang terkait dengan seksualitas perempuan yang meliputi seks dan gender atau kompleksitas dari dua jenis tersebut, mulai dari fisik, emosi, moral dan norma-norma sosial tidak bisa dilepaskan dari konstruksi sosial dan budaya. Dalam konteks masyarakat patriarki, seksualitas perempuan diletakkan dalam posisi inferior, tidak mempunyai peran penting dan terdiskriminasi. Artinya perempuan kehilangan hak atas otoritas tubuhnya sendiri. Seksualitas perempuan bukanlah fakta yang terisolasi, namun lebih tepatnya merupakan perasaan, sensasi dan perilaku yang muncul dan berkembang dalam stigma masyarakat yang dipermainkan dan dieksploitasi oleh patriarki.

Kontrol patriarki terhadap tubuh perempuan, mengakibatkan kaum perempuan menganggap dirinya sebagai sumber masalah dan cenderung akan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu yang menimpa tubuhnya. Setelah merunut ulang, ternyata budaya patriarki tidak hanya menempatkan perempuan dalam kondisi yang timpang tetapi juga memosisikan pada keadaan yang rentan salah satunya praktik kekerasan dan pelecehan seksual. Sejatinya sepanjang zaman superioritas di atas tidak dapat dipertahankan secara mutlak. Karena pada realita sosial, tidak semua laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Saat ini banyak perempuan yang telah berkiprah dan tampil untuk menjalankan peran publiknya dengan baik, tidak sekadar peran domestik. Argumen superioritas laki-laki bukan suatu yang mutlak dan berlaku sepanjang masa namun merupakan sebuah produk sejarah.

Baca Juga:  Biografi Bu Nyai Hannah Zamzami Lirboyo

Dengan cara pandang yang demikian, setidaknya kita tidak lagi memandang perempuan sebagai makhluk Tuhan yang lemah, rendah dan inferior sebagaimana yang telah dilanggengkan dalam budaya patriarki. Paradigma berpikir seperti ini diharapkan tidak hanya terbatas pada hubungan laki-laki dan perempuan. Namun pada persoalan menyeluruh dalam dinamika sosial dan budaya yang luas.


Tentang Penulis

Penulis adalah pelayan kemanusiaan. Ia mempercayai bahwa kata mampu menjelaskan kebenaran. Hanya sekadar menguji kebenaran, bukan memberhalakannya secara tunggal.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.