Apa yang Diperjuangkan Cut Nyak Meutia – Biografi

cut nyak meutia

Biografi dan Profil Lengkap Pahlawan Wanita Cut Nyak Meutia – Pada artikel ini, kami akan menoba untuk merangkup dengan lengkap dan jelas siapakah Cut Nyak Meutia dan apakah yang diperjuangkan oleh Cut Nyak Meutia untuk Indonesia.

Contoh Teks Biografi Cut Nyak Meutia

Kalian juga bisa mencontoh teks biografi Cut Nyak Meutia beserta strukturnya pada konten biografi di bawah ini dalam menulis biografi Cut Nyak Meutia.

Siapa Sih Cut Nyak Meutia?

Cut Nyak Meutia atau yang kita kenal dengan Cut Meutia adalah seorang tokoh pahlawan nasional perempuan Indonesia yang berasal dari wilayah Aceh.

Apakah Cut Nyak Dien dan Cut Nyak Meutia Sama?

Sesuai dengan beberapa data yang didapatkan oleh penulis, Cut Meutia lahir di Keureutoe, Pirak, Aceh Utara pada tahun 1870-an. Cut Nyak Meutia berbeda dengan Cut Nyak Dien. Dan itu sudah pasti. Namun mereka berdua, Cut Nyak Meutia dan Cut Nyak Dien adalah pahlawan wanita Indonesia yang jasanya sangat besar dalam mempertahankan kemerdekaan Negara.

Kematian Cut Nyak Meutia

Cut Meutia wafat pada tanggal 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng, Aceh. Cut Meutia jadi pahlawan nasional Indonesia berdasar Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 di tahun 1964.

Dimana Lahirnya Tjut Nyak Meutia?

Tulisan di bawah ini adalah profile singkat pahlawan wanita Indonesia Cut Nyak Meutia lengkap dengan tanggal lahir Cut Nyak Meutia, hari meninggalnya Cut Nyak Meutia, anak Cut Nyak Meutia, pasangan Cut Nyak Meutia, Ayah Cut Nyak Meutia, ibu Cut Nyak Meutia, dan agama Cut Nyak Meutia.

Baca Juga:  Informasi Lowongan Kerja Online atau Offline di Daerah Sidoarjo Terbaru
Cut Nyak Meutia
Foto: Cut Nyak Meutia

Profil Singkat Cut Nyak Meutia

Nama: Tjoet Nyak Meutia

Lahir: 1870, Kesultanan Aceh

Wafat: 24 Oktober 1910, Aceh

Berkebangsaan: Indonesia

Anak: Teuku Raja Sabi

Pasangan: Teuku Muhammad (m. ?-1905) & Pang Nanggroe (m. ?-1910)

Ayah: Teuku Ben Daud Pirak

Ibu: Cut Jah

Agama: Islam

Perjuangan Cut Nyak Meutia

Sebelumnya, Tjoet Meutia melakukan perlawanan untuk mengusir Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun, di bulan Maret 1905, Teuku Tjik Tunong sukses diamankan Belanda dan diganjar hukuman di pinggir pantai Lhokseumawe.

Wasiat Untuk Cut Nyak Meutia

Sesaat sebelum wafat, Teuku Tjik Tunong memberi pesan ke teman dekatnya Pang Nagroe supaya mau menikah dengan istrinya dan menjaga anaknya, Teuku Raja Sabi.

Apa yang Cut Nyak Meutia Perjuangkan

Sama seperti warisan suaminya, Tjoet Meutia selanjutnya menikah dengan Pang Nagroe dan tergabung dengan pasukan yang lain di bawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Itu juga termasuk perjuangan Cut Nyak Meutia untuk menepati wasiat suaminya

Cut Nyak Meutia Mundur dari Pertempuran

Di suatu pertarungan dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan beberapa wanita larikan diri ke rimba. Pang Nagroe sendiri terus lakukan perlawanan sampai pada akhirnya, dia meninggal di tanggal 26 September 1910.

Bangkitnya Cut Nyak Meutia

Selanjutnya, Cut Nyak Meutia bangkit kembali dan terus lakukan perlawanan bersama beberapa sisa pasukkannya.

Kala itu kemampuan pasukan tinggal 45 orang dengan 13 puncak senapan. Sesudah bersepakat, mereka lalu pergi ke Gayo untuk menyatukan diri dengan pasukan yang lain.

Ketika berada di tengah-tengah perjalanan, di Paya Beuranang, mereka berjumpa dengan Teungku Seupot Mata dan lalu bersama melanjutkan perjalanan ke Gayo yang susah dan genting.

Baca Juga:  Informasi Lowongan Kerja Online atau Offline di Daerah Puncak Terbaru

Serangan Kejut Kepada Cut Nyak Meutia

Pada tanggal 24 Oktober 1910, di persilangan Krueng Peutoe yakni di Alue Kurieng, kelompok itu stop untuk menanak nasi. Disitu secara mendadak mereka terserang oleh pasukan Christoffel (Marechausée).

Pasukan Cut Nyak Meutia dan Teungku Seupot Mata yang telah sangat sedikit kemampuannya itu tetap siap menghadapi musuh-musuh. Pertarungan itu terjadi dengan sangat sengit.

Pertarungan itu Cut Meutia ketembak kakinya dan terus terduduk di tanah. Cut Meutia tidak berserah, bahkan juga dengan pedang terhunus dia terus melangsungkan perlawanan sampai pada akhirnya dia terbunuh oleh lawan.

Akhir Perjuangan

Saat detik-detik akhir perjuangannya, Cut Meutia sempat memberi pesan ke Teuku Syakh Buwah yang ada di dekatnya. Ucapnya dengan pendek:

“Selamatkanlah anakku, Raja Sabi. Aku serahkan dia ke tanganmu”.

Instruksi itu bisa dikerjakan secara baik oleh Teuku Syakh Buwah hingga Teuku Raja Sabi putera Cik Tunong dan Cut Meutia selamat. Sampai pada akhirnya bisa menikmati kemerdekaan Indonesia.

Gugurnya Teuku Raja Sabi

Tetapi pada tahun 1946, Teuku Raja Sabi mati terbunuh sama seperti yang disebut dalam Revolusi sosial di Sumatera Utara.

Penghargaan Cut Nyak Meutia

Penghargaan kepada Cut Nyak Meutia diberikan pada tanggal 19 Desember 2016, atas beberapa jasa yang sempat dilaksanakan Cut Meutia, Pemerintahan Republik Indonesia, mendokumentasikannya dalam pecahan uang kertas rupiah baru Republik Indonesia yakni pecahan uang Rp.1.000.

Cut Nyak Meutia
Foto: Uang 10000

Foto Potret Cut Nyak Meutia bersumber dari hasil foto seorang fotografer Belanda bernama Christiaan Benjamin Nieuwenhuis pada tahun 1905.

Gambar Cut Meutia

Potret Cut Nyak Meutia kemudian dijadikan postcard atau kartu poshingga tahun 1905. Gambar Cut Nyak Meutia isa diakses melalui situs KITLV Universitas Laiden Belanda.

Baca Juga:  Informasi Lowongan Kerja Online atau Offline di Daerah Aceh Jaya Terbaru

Gambar Cut Nyak Meutia itu diberi nama “Voorname Atjehsche Vrouw” (Perempuan Aceh). Dan pada tahun 1901 ketika gambar Cut Nyak Meutia diambil, di tahun itulah awal mula perang besar di pedalaman Aceh

Itulah tulisan terlengkap tentang Biografi dan Profil Lengkap Pahlawan Wanita Indonesia, Cut Nyak Meutia. Semoga bermanfaat.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.